Senin, 07 Maret 2011

Operasi ringan untuk Mengatasi Ngorok

Ngorok alias mendengkur saat tidur sejak dulu jadi masalah sosial : mengganggu teman tidur (yang belum tidur). Yang lebih gawat, mengorok ternyata dapat memicu timbulnya berbagai penyakit berbahaya.

Namun, masalah mengorok itu kini bisa diatasi secara efektif dengan prosedur implan pillar.

Marissa, karyawan swasta di Jakarta bercerita hampir tiap malam terbangun dari tidur gara-gara mendengar bunyi dengkuran keras suaminya. "Ini terjadi karena suami saya kegemukan, dan makin parah setelah tulang hidungnya bengkok karena kecelakaan. Tapi dia nggak mau diobati karena takut."

Sementara Harry Tumengkol (40), warga Cinere, Depok, mengaku sejak tiga tahun lalu kerap mendengkur saat tidur. Makin lama, frekuensinya meningkat dan bunyi dengkuran kian keras. Setelah diperiksa dokter, ia didiagnosa mendengkur lantaran memiliki lidah lebar, sehingga akhirnya ia memutuskan menjalani prosedur implan pillar.

Masalah mendengkur juga dialami Robi Harjanto (48), warga Bekasi, terutama jika kelelahan. Gara-gara mendengkur, ia menanggung malu karena ditertawakan para penumpang di sekitarnya saat naik pesawat. "Semula saya pakai masker tiap kali mau tidur. Setelah dioperasi dengan prosedur implan pillar, intensitas mendengkurnya kini berkurang hingga 40 persen."

Menurut spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT) Dr Damayanti Soetjipto Sp THT-KL (K) dari Klinik Snoring, Rumah Sakit MMC Jakarta, Selasa (13/9), di Jakarta, mengorok bukan hanya masalah sosial, tapi juga persoalan kesehatan. Selain bunyi dengkuran mengganggu teman tidur, orang yang mendengkur berat umumnya mengalami gangguan sumbatan pernapasan saat tidur hingga terjadi henti napas.

Jika terjadi tiap hari, hal ini bisa menimbulkan beragam penyakit di antaranya hipertensi, meningkatkan risiko gagal jantung dan stroke. Gejala awal gangguan dengkur antara lain mengantuk di siang hari, sakit kepala di pagi hari, mudah marah, kelelahan, daya ingat dan kemampuan intelektual menurun, masalah seksual dan depresi. "Ini menurunkan produktivitas kerja dan bisa terjadi kecelakaan," ujar Dr Damayanti.

Penyebab dengkur adalah kelainan anatomi jaringan lunak dan tulang saluran napas, di antaranya langit-langit lunak, lidah besar, dan sumbatan hidung. Vibrasi langit-langit lunak rongga mulut merupakan 80 persen penyebab mendengkur. Faktor penyebab lain adalah, kelebihan berat badan, mengonsumsi alkohol, dan merokok.

Di Amerika Serikat, lebih dari 40 juta penduduk mendengkur saat tidur. Menurut National Institutes of Health, lebih dari dua juta warga AS menderita sumbatan pernapasan saat tidur (OSA) sehingga sering terjadi henti napas sampai ratusan kali semalam, dan bisa berhenti dalam waktu lebih dari satu menit.

Penyisipan implan

Untuk mengatasi masalah dengkur dan sumbatan pernapasan saat tidur, semula penderita menggunakan masker CPAP (Continuous Positive Air Pressure) setiap malam seumur hidupnya, atau menjalani operasi yang lebih berisiko dan menyakitkan, agar tidak mendengkur. Kini, banyak negara di dunia mulai menerapkan prosedur implan pillar sebagai alternatif.

Prosedur impan pillar merupakan operasi ringan yang relatif tidak sakit, aman, efektif, dapat dilakukan dengan satu kali kunjungan ke dokter, dan telah disetujui Badan Perizinan Makanan dan Obat dari Amerika Serikat (FDA) untuk mengatasi gangguan dengkur dan OSA. "Metode ini bisa mengurangi dengkuran hingga 80 persen dan menghilangkan sumbatan saluran napas," kata Damayanti.

Prosedur terapi ini sangat sederhana, dan lamanya tak sampai satu jam. Tiga implan (seperti potongan tusuk gigi) panjang sekitar 3 cm disisipkan di bagian belakang langit-langit lunak rongga mulut. Gunanya untuk mengurangi getaran jaringan lunak rongga mulut dan tenggorokan, penyebab bunyi dengkuran. Setelah disisipkan, ketiga implan yang terbuat dari polyester tephanat ini menyangga langit-langit lunak rongga mulut, sehingga suara dengkur berkurang.

Masa pemulihanoperasi ringan ini relatif singkat. Fungsi bicara dan menelan pun, tetap sama. Sayangnya, pasien harus merogoh kocek hingga Rp 15 juta untuk operasi kecil ini. Komplikasi ringan bisa terjadi jika posisi antar implan terlalu jauh (lebih dari dua milimeter), atau bila letak implan tidak di dalam otot. ***


Sumber Evy Rachmawati

Tidak ada komentar: